![]() |
| Foto : Gudang foto @farhan_sidjalu |
Bismillah...
Irvan yah hmm
Postingan ini mengingatkan saya pada kampung halaman. Saya saat ini tinggal di Daerah Mugirejo kecamatan Sungai Pinang Kota Samarinda. Kota sih di alamatnya, tapi saya tinggal jauh dari jantung kota Samarinda. Bisa dibilang saya tinggal di dalam hutan karena kanan dan kiri sekitar rumah saya adalah hutan yang belum terjaman dan sepertinya sulit untuk dijamah.
Saya, pindah dengan resmi ke Samarinda dari Cianjur resmi pada 11 Juli 2018. Saya meningalkan kedua orang tua dan 1 adik saya di rumah saya di Cianjur, tepatnya di Nagrak Desa Kawungluwuk kecamatan Sukaresmi (Cipanas).
Oke saya mulai saya ke pembahasan.
Saya tangkap 2 hal penting dalam kasus ini, pertama KORUPSI dan yang kedua adalah TUGU. Memang semenjak saya masih tinggal di Cipanas sana saya selihat dan mendengar sedang ada pembangunan tugu. Tugu A beres bangun tugu B dan memperbaiki tugu C, setelah selesai Tugu A dihanjurkan dan diganti dengan bangunan tugu baru yang membuat masyarakat risih karena membuat macet dan polusi bertambah akibat pembongkaran. Tentu hal itu membuat udara tercemar, udah sama asap kendaraan, asap pabrik, restoran dan lainnya ditambah pembongkaran bangunan dan pembangunan yang tidak jelas.
Sejak awal memang saya pribadi tidak yakin dengan PEMIMPIN yang satu ini, saya menilai hal ini seperti kota dinasti saja, karenan memang sebelumnya Bapak dari bupati sekarang (Irvan Rivano Muchtar) yang bernama Tjetjep Muchtar Soleh adalah mantan Bupati pada periode 2006 sampai 2016. Selama 2 periode kami di bawah naungan pemimpin seperti ini tidak pernah merasakan kebahagiaan malah kebingungan dengan berbagai macam masalah.
Kita lupakan masalah dengan periode Tjetjep Muchtar Soleh. Lanjut ke bahasan. Kalau bukan dinasti apa lagi namanya kalau Bapaknya menjabat selama 2 periode dan dilanjutkan sama anaknya yang yahh boleh dibilang acakadut. Saya sering melihat berita pencitraan beliau sedang ada kegitan GOROL. Kegiatan itu semacam ngecor jalan dan pembangunan akses jalan, namun, sekali lagi itu hanya pencitraan. Nyatanya pada bulan November 2017 saat beliau ada kunjungan ke suatu daerah yang kebetulan saya ada disana nyatanya ga seberapa dia membantu hanya saat difoto saja setelah difoto beliau langung diam lagi dan menunjuk-nunjuk anak buahnya.
Lupakan sudah hal spele kaya gitu. Saya menulis artikel ini bukan tanpa alasan. Saya selama 2 bulan ini sering mengobrol dengan warna cianjur secara acak via instagram dan lebih 1000 orang yang saya tanya mengenai kepemimpinan dan perkembangan wilayah Cianjur khususnya kmapung halaman saya di daerah Cipanas dan Cianjur selatan yang sering kali terbengkalai. Dari 1000 orang yang saya tanya saya mengambil keputusan 72.3% warga Cianjur kecewa dengan kepemimpinan Bupati yang saat ini mungkin beda di kantor KPK sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
// ini menurut data saya yang malakukan riset sendiri dengan bantuan google form.
Dan kalau saya kita lihat akhir-akhir ini, Cianjur banyak sekali dilanda bencana, mulai dari banjir yang terjadi sore tadi (saat artikel ini ditulis pada anggal 12/12/2018 jam 22.20) itu bukan hal yang biasa terjadi pada saat masih tinggal di Cianjur sana. Bahkan angin puting brliungpun jarang dan hanya ada di gunugn saja untuk jd mainan orang-orang yang hobi dengan seni baling-baling. Tapi kita lihat postingan dari @visitcianjur yang memposting adanya angin kencang yang menerjang beberapa kawasan di Cianjur. Hal seperti itu yang selalu mengingatkan saya dan rasanya inign menjaga orang tuaku yang hanya tinggal bertiga dalam gubuk yang alakadarnya
Akan tetapi ada penjelasan yang secara ilmiah karena memang lagi musimnya penghujan dan angin kencang.
Kita kita lihat kebelakang 3 tahun yang lalu, tidak pernah terjadi hal semacan ini. Seperti longsor, banjir, angin puting beliung dan hal itu tuh sebenarnya ga pernah terjadi, pernah sihh namun jarang-jarang. Tapi saat ini banyak sekali yang terjadi bencana yang menimpa warga Cianjur, hal itu ga bisa lepas dari tanggung jawab pemimpin yang seenaknya bertingkah. LGBT juga sebuah musibah, itu tak lepas dari bejatnya seorang pemimpin kami. Bukannya harus menjadi contoh yang baik ini kan beliau malah menjadi sosok yang ga patut ditiru kelakuannya oleh masyarakat.


Komentar
Posting Komentar